Selasa, 07 Januari 2014

DIARE

LAPORAN PENDAHULUAN
A.      Definisi
Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair.
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal ( > 3 kali/hari ), serta perubahan isi/volume ( > 200 gr/hari) dan konsistensi feces cair (Brunner & Suddarth, 2002).
B.      Etiologi
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu :
1.      Faktor infeksi
Infeksi internal adalah infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare meliputi :
a.       Infeksi Bakteri : vibrio E.coli Salmonella, Shigella, Campyio bacter, Aeromonas
b.      Infeksi virus : Enteriviru ( virus echo, coxsacle, poliomyelitis ), Adenovirus, Astrovirus, dll
c.       Infeksi parasit : Cacing (ascaris, trichuris, oxyguris).
Protozoa (entamoeba histoticia, trimonas hominis),
Jamur (candida albacus).
Infeksi parental adalah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (OMA), bronco pneumonia, dan sebagainya.
2.      Faktor Malabsorbsi
a.       Malabsorbsi karbohidrat
b.      Malabsorbsi Lemah
c.       Faktor Makanan : Makanan yang tidak bersih, basi, beracun dan alergi terhadap makanan.
C.      Klasifikasi
1.      Diare Akut
Adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat dalam beberapa jam sampai 7 atau 14 hari.
a.       Penularan
1)      Transmisi orang keorang melalui aerosolisasi
2)      Tangan yang terkontaminasi (clostridium diffale)
b.      Penyebab
           1)      Faktor penyebab yang mempengaruhi adalah penetrasi yang merusak sel mukosa
           2)      Faktor penjamu adalah kemampuan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme
2.      Diare Kronik
Adalah diare yang berlangsung lebih dari 3 minggu bagi orang dewasa dan 2 minggu bagi bayi dan anak.
D.      Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut:
1.      Kehilangan air (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.
2.      Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis)
Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja.Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan.Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler.
3.      Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa.Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak.
4.      Gangguan gizi
Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh:
·         Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang    bertambah hebat.
·         Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan terlalu lama.
·         Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik.
5.      Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal.
E.      Menifestasi Klinis
§  Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer
§  Terdapat tanda dan gejala dehidrasi; turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering
§  Keram abdominal
§  Demam
§  Mual dan muntah
§  Anorexia
§  Lemah
§  Pucat
§  Perubahan tanda-tanda vital; nadi dan pernafasan cepat
§   Menurun atau tidak ada pengeluaran urine
F.      Pemeriksaan Diagnostik
1.      Pemeriksaan tinja
            a)      Makroskopis dan mikroskopis
            b)      Ph dan kadar gula dalam tinja
            c)      Bila perlu diadakan uji bakteri
2.      Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.
3.      Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
4.      Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.
G.      Komplikasi
1.      Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
2.      Renjatan hipovolemik.
3.      Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram).
4.      Hipoglikemia.
5.      Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa, usus halus.
6.      Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
7.      Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.
H.      Penatalaksanaan Medis
Dasar pengobatan diare adalah:
Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.
a.       Cairan per oral
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa.
b.      Cairan parentral
Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai berikut:
Ø  Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg
ü  1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).
ü  7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).
ü  16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit
Ø  Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg
ü  1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
Ø  Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg
ü  1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
ü  7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
ü  16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.
Ø  Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg
ü  Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1½ %.
ü  Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts).
Ø  Untuk bayi berat badan lahir rendah
ü  Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1½ %).
c.       Pengobatan dietetik
Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg, jenis makanan:
·         Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak tak jenuh
·         Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim)
·         Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak jenuh.
d.      Obat-obatan
Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain.
KONSEP ASKEP
A.      Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
§   Kurangnya  volume cairan berhubungan dengan seringnya buang air besar dan cencer
§   Risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan seringnya buang air besar
§   Risiko infeksi pada orang berhubungan dengan terinfeksi kuman diare atau kurangnya pengetahuan tentang pencegahan penyebaran penyakit
§   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan menurunnya intake (pemasukan) dan menurunnya absorbsi makanan dan cairan
§   Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan perawatan anak
§   Cemas dan takut pada anak/orang tua berhubungan dengan hospitalisasi dan kondisi sakit.
B.      Intervensi (rencana tindakan)
1.      Tingkatkan dan pantau keseimbangan cairan dan elektrolit
·         Pantau cairan IV
·         Kaji asupan dan keluaran
·         Kaji status hidrasi
·         Pantau berat badan harian
·         Pantau kemampuan anak untuk rehidrasi
2.      Cegah iritabilitas saluran gastro intestinal lebih lanjut
·         Kaji kemampuan anak untuk mengkonsumsi melalui mulut (misalnya: pertama diberi cairan rehidrasi oral, kemudian meningkat ke makanan biasa yang mudah dicerna seperti: pisang, nasi, roti atau asi.
·         Hindari memberikan susu produk.
·         Konsultasikan dengan ahli gizi tentang pemilihan makanan.
3.      Cegah iritasi dan kerusakan kulit
·         Ganti popok dengan sering, kaji kondisi kulit setiap saat.
·         Basuh perineum dengan sabun ringan dan air dan paparkan terhadap udara.
·         Berikan salep pelumas pada rektum dan perineum (feses yang bersifat asam akan mengiritasi kulit).
4.      Ikuti tindakan pencegahan umum atau enterik untuk mencegah penularan infeksi (merujuk pada kebijakan dan prosedur institusi).
5.      Penuhi kebutuhan perkembangan anak selama hospitalisasi.
·         Sediakan mainan sesuai usia.
·         Masukan rutinitas di rumah selama hospitalisasi.
·         Dorong pengungkapan perasaan dengan cara-cara yang sesuai usia.
6.      Berikan dukungan emosional keluarga.
·         Dorong untuk mengekspresikan kekhawatirannya.
·         Rujuk layanan sosial bila perlu.
·         Beri kenyamanan fisik dan psikologis.
7.      Rencana pemulangan.
·         Ajarkan orang tua dan anak tentang higiene personal dan lingkungan.
·         Kuatkan informasi tentang diet.
·         Beri informasi tentang tanda-tanda dehidrasi pada orang tua.
·         Ajarkan orang tua tentang perjanjian pemeriksaan ulang
DAFTAR PUSTAKA
      1.      Arief, Mansjoer. 2000. Kapita Selekta Jilid II Edisi 3. Media Aesculapius : Jakarta
      2.      Dongoes , Mariliynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan.EGC : Jakart

      3.      Carpenito-moyet, Lynda juall. 2007, “Buku Saku Diagnosis Keperawatan”, Jakarta